Tahun 1982 berangkat ke Bintuhan bersama kontraktor dan stafnya naik jeep baru, mereka dari Bengkulu saya bergabung di Manna, dari kota Manna keselatan jln aspal hanya beberapa kilometer, itupun sdh banyak berlubang selebihnya jln berbatu koral dan batu muka. sampai di Padang Guci hari sdh sore, rakit sdh ditambat tdk ada menyebrangkan lagi, karena aliran air sungai Padang Guci sdh mulai deras lagi.
Rombongan ahirnya istirahat di warung rumah, dibawah warung diatas rumah ujung jln,
sesungguhnya, krn sampai disitu jln terputus oleh sungai Padang Guci. Air sungai sangat bening utk ukuran muara, dari sini kebibir pantai jarakmya paling 1/2 kilometer, tdk ada arus balik air pasang dari laut krn perbedaan tinggi dg permukaan air laut pasang sekitar 5/6 m.
Aliran air cukup deras terlihat dari bekas longsoran bibir tebing sungai yg diterjang air banjir, deretan gosong koral yg ditumbuhi belukar Ali Musa ditengah sungai bekas sungai berbelok arah waktu banjir. Aliran air sungai hanya menempati sepertiga badan sungai, selebihnya berubah menjadi gosong koral diantara liku2 aliran air.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar