Hujan mulai reda tinggal gerimisnya, saya membuat api ungun dari kayu bakar yg berserak dipinggir kali. Api ungun membesar saya memperhatikan air sungai, banjir cukup besar muka air sungai hanya 0,50 meter dari bibir tebing.
Saya jongkok sambil memperhatikan bibir air menjilati tebing tanah, ada yg merayap kelihatan waktu jilatan air sedang surut, ternyata udang, udang buanyaaaak merayap didinding tebing menuju kehulu melawan arus air banjir yg deras mengalir kelaut.
Rupanya udang yg sedang migrasi utk bertelur dihulu, dihadang air banjir, mereka menyebar dan merapat kedinding tebing dan ketemu saya yg lagi jongkok.
Saya lari kewarung melihat tangguk tergantung didinding, saya pinjam pak, ya..ya pak, kemudian tangguk digarukan kedinding tebing, benar saja tiap garukan dapat 4/5 ekor udang se-besar2 ibu jari.
Menggaruk dinding tebing dilanjutkan teman yg lain, saya menusuk udang dlm tiiran ditaburi garan dan dibakar diapi ungun. Udang bakar merah dan manis setiap tanggokan satu tiiran.
Alhamdulillah sore itu perut kenyang makan udang bakar Padang Guci yg lagi banjir.